Sudah sejak beberapa bulan yang lalu saya mengenal pria itu, tapi hingga kini saya belum juga tahu siapa namanya. Yang saya tahu adalah dia seorang pria bertubuh kecil asal Wonosobo yang merantau ke Bandung sejak tahun 1984, pernah bekerja di sebuah pabrik garmen di Karawang, kemudian mejadi kuli kontrak selama beberapa tahun di Jakarta. Kembali ke Wonosobo beberapa waktu, menikah dan awal tahun 90an kembali ke Bandung serta memutuskan berjualan bajigur hingga kini. Ia mengontrak rumah di daerah Kopo yang kira-kira berjarak 1 setengah jam jalan kaki ke tempat ia biasa mangkal di Kantor Pos Asia-Afrika, Bandung, tempat Wulan bekerja di sebuah booth berukuran 2×1 untuk sebuah bank multinasional yang busuk itu hinggqa harus membuatnya bekerja sampai larut malam. Saya berkenalan dengan pria itu ketika suatu malam ia menawarkan bajigur dagangannya ketika saya ingin menjemput Wulan. Ia sering menemani saya membunuh kebosanan dengan segelas bajigur, sebungkus kacang dan cerita-cerita masa lalunya. Tentang betapa mudahnya mencari kerja di jaman dulu, tentang rumah dan keluarganya di Wonosobo, tentang preman-preman yang sering meminta jatah tanpa membayar. Ia memang pendongeng yang baik dan menyenangkan. Ia selalu berbicara menggunakan bahasa sunda dengan logat Jawa yang kental. Bercerita dengan mengebu-gebu dengan ekspresi wajah yang aneh yang menimbulkan kesan lugu dan jenaka walau saya tahu sebenarnya ia tidak berniat melucu. Ia tidak pernah marah walaupun saya sering mengkritik bajigurnya yang terlalu manis, menyuruhnya memotong kuku kakinya yang hitam karena membuat saya jijik, atau terkadang saya menyuruhnya menceritakan ulang cerita yang disampaikannya namun dengan bahasa Jawa logat British. Saya akhirnya memutuskan untuk menjadikan Mang Bajigur (demikian saya memanggilnya) sebagai teman, dan saya yakin dia juga mengganggap saya temannya. Terbukti ia selalu memberikan ekstra kolang-kaling dalam bajigur saya dengan ikhlas. Yup, teman harus saling memberi bukan?
Suatu malam Wulan meminta saya untuk membawakannya minuman panas. Saya lalu meminta Mang Bajigur untuk membawakan 2 gelas bajigur: 1 untuk Wulan dan 1 untuk Gani (Oh ya, Gani itu teman sekerja Wulan). Saya sekalian memintanya menyampaikan pesan, “Mang, tolong bilang juga ‘GOOD-LOOKING GENTLEMAN SENDS THIS BAJIGUR WITH LOVE‘… Bilangnya ke yang perempuan, jangan ke yang laki-laki, ya…”
“Teu ngarti ah, Cep…” kata si mang.
“Yeee, si mang… Toloooong pisan… Ini teh penting… Plis lah, Mang…” kata saya memohon. Saya mencoba menjelaskan arti kalimat bahasa Inggris tersebut dan memintanya untuk mengulang kalimat yang sama.
“Ah, malu Cep… udah tua saya, mah… Nggak bisa….”
“Ah, si mang mah.. Gimana mau maju, belum apa-apa udah bilang nggak bisa… Lagian yang cinta-cintaan kan saya, tapi Mang yang ngomong,” jawab saya sambil terus mendesaknya. Akhirnya Mang Bajigur pun menyanggupi dengan terpaksa. Sambil membawa 2 gelas bajigur serta amanat pesan cinta dalam bahasa Inggris yang harus disampaikan, ia pun masuk mengantarkan bajigur ke booth Wulan dengan langkah gontai.
Tak lama ia pun kembali tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lewat HP saya menanyakan Wulan, apakah Mang Bajigur menyampaikan pesan cinta saya.
“Nggak, si mang nggak bilang apa-apa,” kata Wulan. “Kenapa emang?”
“Nggak… Aku nitip pesen ke Mang betapa aku mencintaimu. Disampein nggak?”, saya bertanya balik.
“Nggak. Apa-apaan sih kamu,” jawab Wulan sambil menutup telepon.
Seketika saya pun menegur si Mang yang saat itu sedang berpura-pura sibuk mengatur gelas, “Yeeh, mang gimana sih? Kok pesen saya nggak disampein? Ini tuh amanat, Mang.. Amanat tuh kudu disampein, kalo nggak masuk neraka.. Mang mau masuk neraka?”.
“Malu ah, Cep… Nggak ngerti ngomongnya gimana. Lupa saya teh,” kata si Mang.
“Ya udah. Saya tulisin aja yah, terus Mang bacain di depan pacar saya”. Saya lalu menuliskan: ‘A GOOD-LOOKING GENTLEMAN SENDS THIS BAJIGUR AND NOW HE IS WAITING FOR YOU OUTSIDE WITH LOVE‘, pada selembar kertas yang saya sobek dari buku catatan saya. “Sok, coba dibaca..,” kata saya sambil memberikan kertas yang berisi tulisan sambil memintanya untuk mencoba membacanya dengan baik dan benar. Setelah saya rasa dia bisa mengucapkan kalimat dengan pronounciation yang benar, saya lalu memintanya untuk kembali menyampaikan pesan cinta ke Wulan, kali ini beserta sekantong pisang dan ubi rebus.
Lama si Mang tidak kembali, padahal dua orang sudah menunggu untuk membeli bajigurnya. Daripada pelanggan harus menunggu lama maka akhirnya saya memutuskan untuk melayani mereka. Tak apalah saya membantu si Mang melayani pembeli. Toh dia sudah membantu saya untuk menyampaikan pesan cinta ke pacar. Sempat terbersit di pikiran saya, jangan-jangan si Mang kabur pulang kampung akibat malu pada saya karena tak mampu menjalani amanat yang berat tersebut dan meninggalkan gerobaknya begitu saja. Tapi pikiran aneh saya itu tidak terbukti karena tampak dari jauh si Mang kembali dengan langkah yang jauh lebih gontai dari sebelumnya.
Belum sempat si Mang sampai di tempat, tiba-tiba HP saya berdering karena Wulan menelepon, “Hunee! Huahaha, gimana sih, orangtua dikerjain, huahaha!”.
“Dibacain nggak sama si Mang? Dia bilang katanya nggak bisa bahasa Inggris, makanya aku tulisin aja biar dibacain…,” kata saya.
“Haha, nggak… Dia malah ngasih catetan aja, haha… Udah ah, dia kan mau jualan! kasian tauuu!”
“Yee, gimana sih si Mang?! kan aku nyuruhnya dibacain! Padahal udah aku ajarin gimana bacanya. Ya udah, aku suruh balik lagi deh!”
“NGGAK USAH! Malu sama Gani! Kasian ah, orangtua dikerjain, kualat siah! hahaha!!” cegah Wulan.
“Ya udah kalo gitu… Aku bantuin si Mang jualan lagi deh,” ujar saya sambil mengakhiri telepon.
Setelah telepon ditutup, saya segera menghampiri Mang Bajigur. “Mang, nuhun ya… oh iya, tadi ada orang yang beli, ya udah saya layanin. Ini uangnya,” kata saya sambil memberi uang yang saya terima dari pembeli. Tak lupa saya juga membayar dan memberi bonus 10 ribu karena dia telah membantu saya mennyampaikan pesan cinta. Saya lalu pergi meninggalkan si Mang dengan wajah bingung. Mang, maafkan saya yang aneh ini. Bukan maksud saya mempermainkan Mang, saya cuma bercanda. Mang dan wajah Mang yang jenaka akan tetap saya ingat karena Mang telah berada dalam satu scene di kisah percintaan saya. Jangan marah, ya. Kita berteman, bukan? [al]