wedding roomJika membicarakan dominasi dalam rumah tangga maka sulit untuk kami untuk mengatakan siapa di antara kami yang dominan. Untuk situasi tertentu saya dapat menjelma menjadi lelaki chauvinist, sedangkan di saat lain Wulan bisa menjelma menjadi seorang wanita diktator. Saya tidak mau menjadi sosok lelaki tolol yang ada sitkom Suami-suami Takut Istri. Wulan juga tidak ingin menjadi wanita lemah dalam menghadapi represitas suami. Buat kami masalah dominasi rumah tangga hanyalah masalah penyesuaian terhadap kondisi yang sedang kami hadapi saja. Kami berkomitmen untuk saling menghargai dan berkompromi terhadap satu sama lain. Bukannya saling menjajah. Namun komitmen untuk tidak egois dan dominan akhirnya dilanggar juga oleh Wulan sejak hari pertama kami menikah. Ia sudah mulai merusak komitmen dengan menunjukkan sikapnya sebagai penjajah! Ya! Dia menjadi penjajah di atas tempat tidur!

Eits, jangan berpikiran kotor dulu. Karakter tidur Wulan yang berantakan membuat hampir tiga perempat bagian tempat tidur terjajah olehnya. Ia hanya menyisakan sepertiga bagian agar saya bisa tidur dengan posisi seperti Pramuka sedang kemping. Tak jarang saya berusaha melancarkan trik dengan berpura-pura merapatkan badan saya ke badannya sementara tangan dan kaki saya sedikit demi sedikit mengeser badannya pelan-pelan. Trik ini sering membuatnya terbangun dan ngedumel karena kesal. Sebenarnya ini bukan sepenuhnya salah Wulan. Memang harus saya akui bahwa tempat tidur kami tidak bisa menampung dua tubuh berukuran jumbo. Sadar akan hal ini, lama kelamaan ia akhirnya mampu tidur dengan tenang tanpa melanggar wilayah yang dibatasi oleh garis damarkasi untuk menentukan daerah teritori masing-masing. Sesaat kedamaian tidur saya akhirnya dapat terjaga.

Namun di saat Wulan hamil ia seakan menemukan alasan baru untuk melancarkan agresi tidurnya yang brutal. Ia mulai melancarkan dalih mengenai perutnya yang semakin membesar sehingga sulit baginya untuk menemukan posisi tidur yang enak. Hal ini membuat saya mau tak mau harus mengalah. Apalagi ia selalu menyuruh saya untuk tidur pada sisi ranjang yang menempel ke dinding, alhasil seringkali saya harus tidur dengan gaya Spiderman menclok di tembok karena terdesak olehnya. Bahkan saking terdesaknya terkadang saya harus mengungsi tidur di lantai beralaskan bed cover.

Jadi saya sudah bisa membayangkan apa jadinya kalau si adik sudah lahir. Pasti saya akan menjadi penghuni tetap di lantai. Tidak mungkin ranjang tersebut bisa menampung kami bertiga. Bisa-bisa si adik bayi tergencet badan kami yang tidak bisa dikatakan langsing. Tak apalah sayang. Nanti kalau kita punya rejeki lebih, kita beli tempat tidur yang besaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar, biar kamu bisa guling-gulingan sepuasnya. Tapi, nanti malam aku boleh ya tidur di kasur…… Pegel euy tidur di lantai….. [al]

DSC00458Bayi muncul ketika Tuhan mengutus seekor burung pelikan untuk membawa keranjang yang berisi adik bayi agar kemudian diletakkan di depan pintu rumah pasangan lelaki dan perempuan yang baru menikah.

Cerita diatas merupakan dongeng klasik yang sering dipakai untuk menerangkan proses munculnya bayi. Semasa kecil dulu saya selalu menganggap bahwa ketika lelaki dan perempuan menikah otomatis mereka akan memiliki bayi, wanita hamil mengeluarkan bayi melalui pantat sama halnya seperti mengeluarkan e’ek. Tidak pernah sedikit pun terpikirkan bagaimana proses terjadinya.  Di saat memasuki masa pubertas barulah saya mengetahui proses terjadinya bayi setelah guru biologi SMP saya menerangkan bahwa bayi tercipta ketika satu buah sperma yang tangguh berenang mencapai sel telur wanita setelah mengalahkan jutaan sperma yang disemburkan oleh pria.

Saat itu saya tidak memiliki bayangan betapa sulitnya seorang wanita hamil menjaga bayi yang ada di dalam kandungannya. Tidak pernah terbayangkan betapa repotnya menjadi seorang suami yang harus selalu siaga menjaga istri yang tengah hamil. Setelah menikah barulah saya mengenal secara detil apa yang dimaksud dengan induksi, kontraksi Braxton Hicks, amnion dan istilah-istilah lain tentang kehamilan.

Ya benar, Wulan tengah hamil 8 bulan dan kami sedang menunggu kelahiran anak pertama kami ini dengan perasaan senang dan cemas bercampur-aduk. Hanya satu minggu rahim Wulan kosong sebelum akhirnya terjadilah pembuahan. Saya baru bisa merasakan suatu perasaan yang aneh saat melihat si cabang bayi melalui layar USG. Betapa takjubnya ketika saya mampu merasakan bayi menggeliat di saat menyentuh perut ibunya yang kian lama kian membesar. Melihat keasyikan calon ibu berbelanja keperluan bayi, memilih pakaian dan sepatu ukuran liliput menimbulkan kesenangan tersendiri bagi saya. Rasa iba yang muncul saat melihat kaki si calon ibu bengkak, kesulitan tidur di malam hari. Melihat kulit wanita hamil yang bersinar-sinar mampu menimbulkan sensasi yang tak terungkapkan. Apakah kami siap menjadi orangtua? Siap ataupun tidak kami harus siap dengan segala konsekuensinya agar kami dapat mencapai kesempurnaan dalam berumahtangga.

Oh ya, melalui USG dokter menunjukkan penis kecil si adik yang menyatakan bahwa bayi kami laki-laki, yeaaah!! [al]

IMG_9261

The Groom

IMG_9336

thumb

IMG_9399

IMG_9649

IMG_9736

wedding room

Yup, kami akan menikah dan menjadi satu keluarga keluarga baru. Namun kami telah memiliki anggota keluarga yang lain juga akan tinggal bersama kami. Mereka adalah Mumun dan Handoko. Siapa mereka? Baiklah, kami akan memperkenalkannya.

Oke. Yang pertama adalah si Mumun. Mumun adalah mobil Suzuki Karimun 2003 milik Wulan. Tentu kalian semua sudah cukup cerdas untuk menebak dari mana Wulan mendapatkan nama aneh itu. Yap, benar. “Mumun” adalah nama kecil dari “Karimun”. Mumun diadopsi oleh Wulan sekitar  sekitar 2 tahun yang lalu. Kami tidak bercanda jika mengatakan Wulan memperlakukan Mumun sebagai anaknya. Ia selalu mencuci dan membersihkan Mumun dengan teratur sebagaimana seorang ibu memandikan bayinya. Ia juga teratur untuk mengganti oli bagaikan seorang ibu dengan seksama menyusui anaknya. Mumun juga dihiasi oleh empat buah boneka binatang kecil nan manis (demikian Wulan menganggapnya, walau terkadang Allan menganggap boneka-boneka tersebut agak menakutkan) yang dijejerkan di atas dashboard. Kami menganggap Mumun sebagai seorang sahabat yang pandai menyimpan cerita dan rahasia dengan baik. Ia menjadi saksi bisu akan kisah-kisah bahagia, pertengkaran yang kami alami di mobil, atau segala gombalan lainnya.

Anggota keluarga yang kedua adalah Handoko. Ia adalah sebuah sepeda motor dengan merek Suzuki Thunder milik Allan. Mengapa Handoko? Ada dua alasan Allan untuk menamai motor 125 cc ini dengan nama tersebut. Alasan pertama adalah karena Allan begitu terobsesi untuk memiliki sepeda motor Harley-Davidson yang gagah dan legendaris itu. Namun apa daya ia hanya mampu untuk memiliki motor Suzuki bertenaga bebek berbodi motor (yang tidak begitu) besar keluaran 2006. Maka terbersitlah nama “Handoko” yang merupakan akronim dari “HArley NDdavidsOn diKutuk jadi Ojeg”, haha! Sedikit maksa memang. Alasan kedua adalah, seperti orang seberang (baca: non-Jawa) yang hidup di jaman rezim Orde Baru, mereka kerap menamakan anak-anak mereka dengan nama Jawa dengan harapan agar kelak anak-anak mereka dapat menjadi pejabat ORBA yang umumnya orang Jawa. Tak heran jika dulu kita sering menjumpai orang Batak dengan nama Joko Tampubolon, atau orang Bugis bernama Sugeng. Nah, hal inilah yang membuat Allan memberi nama sepeda motornya dengan nama yang berbau nama Jawa, dengan harapan semoga kelak jika dewasa nanti Handoko akan berubah menjadi motor pejabat yang tangguh dan berwibawa sekelas Harley-Davidson, hihi..

Sungguh, Kebiasaan yang aneh untuk memberi nama kendaraan kami masing-masing ini niatnya sederhana saja. Agar kami memiliki ikatan emosional yang sangat erat dengan si kendaraan tanpa berniat untuk sok imut. Atau mungkin maksudnya hampir sama dengan kegiatan para nelayan yang gemar memberi nama perahu mereka dalm rangka menolak bala agar terhindar dari kecelakaan dan malapetaka, atau seperti orangtua yang memberi nama untuk anaknya sebagai doa buah cinta. Dan bulan depan Mumun dan Handoko akan berulang-tahun. Dalam artian kami harus memperpanjang STNK yang akan habis, dengan membayar pajak kendaraan yang sekarang naik sekitar 10%, Damn! Mumun… Handoko… kado ulang tahun kalian sungguh mahal, hiks.. Tak apalah… Semoga jika dewasa nanti kalian akan berubah menjadi VW Caravelle dan motor Harley-Davidson yang tangguh dan berwibawa… Amin. [al/wul]

Tanpa kami sadari ternyata pernikahan kami akan berlangsung dalam 3 bulan lagi, sedangkan persiapan belum mencapai 70 persen. Setidaknya untuk hal-hal yang penting sudah hampir selesai. Katering? Check! Gedung? Check! Dekorasi? Fiuh, finally confirmed.. Check! (Vera… Kapan kita kita bisa ngobrol lagi?) Pakaian pengantin? Yah, sebenarnya sudah bisa diberi tanda check, tetapi Wulan ingin diet guna menguruskan badan dulu, sehingga Piti, sang disainer pakaian pengantin nan handal harus menunggu sekitar beberapa hari lagi untuk mengukur. Uhm… apalagi ya? Oh ya, seserahan dan mas kawin!

Kita mulai dari seserahan. Ok, sebagian sudah bisa diberi tanda check. Tinggal beberapa item lagi yang harus dibeli atau kita pesan. Sekarang mas kawin. So…Wulan, berapa gram emas yang harus diserahkan mempelai pria untuk kamu? APA?! Emas yang beratnya sama dengan berat badan kamu?! You got mental or something?! Jual diri 5 tahun pun belum tentu bisa nutup untuk beli emas segitu banyak!

Apalagi yang belum selesai? Desain undangan versi cetak dan animasi? Belum, segera dilaksanakan. Souvenir? Belum dibungkus, belum beli pita. Perias untuk orang tua dan saudara? Belum. Seragam keluarga? Sebagian belum. Mengurus ke KUA? Belum. Wah, Banyak sekali ternyata yang belum diurus.

*Ting!*. Sebuah ide brilian agar kita tidak perlu pusing dan repot memikirkan banyak hal untuk pernikahan. Bagaimana kalau kita nikah tamasya aja ke Beirut? Dengar-dengar pemandangan di sana lumayan bagus, seperti Aceh pasca tsunami. Kita bisa sekaligus berdarmawisata dan berbulan madu di markas Taliban atau Al Qaeda. Siapa tahu kita bisa berfoto dan bersalaman dengan Osama bin Laden. Bagaimana? Ide yang cerdas bukan?

Duh... Nampaknya kami sudah mulai kehilangan akal sehat. Ah, sudahlah. Mari kita nikmati saja kerepotan sekali seumur hidup ini. Kalau tidak ingin pusing dan repot, ya jangan nikah. Atau mungkin ada yang berminat untuk membantu kami? Jangan tanggung-tanggung kalau ingin membantu, seperti membantu untuk membayarkan katering untuk 400 undangan, misalnya. Ada yang berminat? Silahkan loh, jangan sungkan-sungkan, hehehe

Sudah sejak beberapa bulan yang lalu saya mengenal pria itu, tapi hingga kini saya belum juga tahu siapa namanya. Yang saya tahu adalah dia seorang pria bertubuh kecil asal Wonosobo yang merantau ke Bandung sejak tahun 1984, pernah bekerja di sebuah pabrik garmen di Karawang, kemudian mejadi kuli kontrak selama beberapa tahun di Jakarta. Kembali ke Wonosobo beberapa waktu, menikah dan awal tahun 90an kembali ke Bandung serta memutuskan berjualan bajigur hingga kini. Ia mengontrak rumah di daerah Kopo yang kira-kira berjarak 1 setengah jam jalan kaki ke tempat ia biasa mangkal di Kantor Pos Asia-Afrika, Bandung, tempat Wulan bekerja di sebuah booth berukuran 2×1 untuk sebuah bank multinasional yang busuk itu hinggqa harus membuatnya bekerja sampai larut malam. Saya berkenalan dengan pria itu ketika suatu malam ia menawarkan bajigur dagangannya ketika saya ingin menjemput Wulan. Ia sering menemani saya membunuh kebosanan dengan segelas bajigur, sebungkus kacang dan cerita-cerita masa lalunya. Tentang betapa mudahnya mencari kerja di jaman dulu, tentang rumah dan keluarganya di Wonosobo, tentang preman-preman yang sering meminta jatah tanpa membayar. Ia memang pendongeng yang baik dan menyenangkan. Ia selalu berbicara menggunakan bahasa sunda dengan logat Jawa yang kental. Bercerita dengan mengebu-gebu dengan ekspresi wajah yang aneh yang menimbulkan kesan lugu dan jenaka walau saya tahu sebenarnya ia tidak berniat melucu. Ia tidak pernah marah walaupun saya sering mengkritik bajigurnya yang terlalu manis, menyuruhnya memotong kuku kakinya yang hitam karena membuat saya jijik, atau terkadang saya menyuruhnya menceritakan ulang cerita yang disampaikannya namun dengan bahasa Jawa logat British. Saya akhirnya memutuskan untuk menjadikan Mang Bajigur (demikian saya memanggilnya) sebagai teman, dan saya yakin dia juga mengganggap saya temannya. Terbukti ia selalu memberikan ekstra kolang-kaling dalam bajigur saya dengan ikhlas. Yup, teman harus saling memberi bukan?

Suatu malam Wulan meminta saya untuk membawakannya minuman panas. Saya lalu meminta Mang Bajigur untuk membawakan 2 gelas bajigur: 1 untuk Wulan dan 1 untuk Gani (Oh ya, Gani itu teman sekerja Wulan). Saya sekalian memintanya menyampaikan pesan, “Mang, tolong bilang juga ‘GOOD-LOOKING GENTLEMAN SENDS THIS BAJIGUR WITH LOVE‘… Bilangnya ke yang perempuan, jangan ke yang laki-laki, ya…”

Teu ngarti ah, Cep…” kata si mang.

Yeee, si mang… Toloooong pisan… Ini teh penting… Plis lah, Mang…” kata saya memohon. Saya mencoba menjelaskan arti kalimat bahasa Inggris tersebut dan memintanya untuk mengulang kalimat yang sama.

Ah, malu Cep… udah tua saya, mah… Nggak bisa….

Ah, si mang mah.. Gimana mau maju, belum apa-apa udah bilang nggak bisa… Lagian yang cinta-cintaan  kan saya, tapi Mang yang ngomong,” jawab saya sambil terus mendesaknya. Akhirnya Mang Bajigur pun menyanggupi dengan terpaksa. Sambil membawa 2 gelas bajigur serta amanat pesan cinta dalam bahasa Inggris yang harus disampaikan, ia pun masuk mengantarkan bajigur ke booth Wulan dengan langkah gontai.

Tak lama ia pun kembali tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lewat HP saya menanyakan Wulan, apakah Mang Bajigur menyampaikan pesan cinta saya.

Nggak, si mang nggak bilang apa-apa,” kata Wulan. “Kenapa emang?”

Nggak… Aku nitip pesen ke Mang betapa aku mencintaimu. Disampein nggak?”, saya bertanya balik.

Nggak. Apa-apaan sih kamu,” jawab Wulan sambil menutup telepon.

Seketika saya pun menegur si Mang yang saat itu sedang berpura-pura sibuk mengatur gelas, “Yeeh, mang gimana sih? Kok pesen saya nggak disampein? Ini tuh amanat, Mang.. Amanat tuh kudu disampein, kalo nggak masuk neraka.. Mang mau masuk neraka?”.

“Malu ah, Cep… Nggak ngerti ngomongnya gimana. Lupa saya teh,” kata si Mang.

“Ya udah. Saya tulisin aja yah, terus Mang bacain di depan pacar saya”. Saya lalu menuliskan:  ‘A GOOD-LOOKING GENTLEMAN SENDS THIS BAJIGUR AND NOW HE IS WAITING  FOR YOU OUTSIDE WITH LOVE‘, pada selembar kertas yang saya sobek dari buku catatan saya.  “Sok, coba dibaca..,” kata saya sambil memberikan kertas yang berisi tulisan sambil memintanya untuk mencoba membacanya dengan baik dan benar. Setelah saya rasa dia bisa mengucapkan kalimat dengan pronounciation yang benar, saya lalu memintanya untuk kembali menyampaikan pesan cinta ke Wulan, kali ini beserta sekantong pisang dan ubi rebus.

Lama si Mang tidak kembali, padahal dua orang sudah menunggu untuk membeli bajigurnya. Daripada pelanggan harus menunggu lama maka akhirnya saya memutuskan untuk melayani mereka. Tak apalah saya membantu si Mang melayani pembeli. Toh dia sudah membantu saya untuk menyampaikan pesan cinta ke pacar. Sempat terbersit di pikiran saya, jangan-jangan si Mang kabur pulang kampung akibat malu pada saya karena tak mampu menjalani amanat yang berat tersebut dan meninggalkan gerobaknya begitu saja. Tapi pikiran aneh saya itu tidak terbukti karena tampak dari jauh si Mang kembali dengan langkah yang jauh lebih gontai dari sebelumnya.

Belum sempat si Mang sampai di tempat, tiba-tiba HP saya berdering karena Wulan menelepon, “Hunee! Huahaha, gimana sih, orangtua dikerjain, huahaha!”.

Dibacain nggak sama si Mang? Dia bilang katanya nggak bisa bahasa Inggris, makanya aku tulisin aja biar dibacain…,” kata saya.

Haha, nggak… Dia malah ngasih catetan aja, haha… Udah ah, dia kan mau jualan! kasian tauuu!”

Yee, gimana sih si Mang?! kan aku nyuruhnya dibacain! Padahal udah aku ajarin gimana bacanya.  Ya udah, aku suruh balik lagi deh!”

NGGAK USAH! Malu sama Gani! Kasian ah, orangtua dikerjain, kualat siah! hahaha!!” cegah Wulan.

Ya udah kalo gitu… Aku bantuin si Mang jualan lagi deh,” ujar saya sambil mengakhiri telepon.

Setelah telepon ditutup, saya segera menghampiri Mang Bajigur. “Mang, nuhun ya… oh iya, tadi ada orang yang beli, ya udah saya layanin. Ini uangnya,” kata saya sambil memberi uang yang saya terima dari pembeli. Tak lupa saya juga membayar dan memberi bonus 10 ribu karena dia telah membantu saya mennyampaikan pesan cinta. Saya lalu pergi meninggalkan si Mang dengan wajah bingung. Mang, maafkan saya yang aneh ini. Bukan maksud saya mempermainkan Mang, saya cuma bercanda. Mang dan wajah Mang yang jenaka akan tetap saya ingat karena Mang telah berada dalam satu scene di kisah percintaan saya. Jangan marah, ya. Kita berteman, bukan? [al]

Kami dipertemukan 10 tahun yang lalu melalui seorang teman. Tidak banyak yang kami bisa ingat dari pertemuan singkat tersebut. Yang bisa kami diingat hanyalah gambaran seorang wanita yang berjongkok malas di depan rumah dengan muka yang masih berbau kasur akibat tidur siang berkenalan dengan seorang pria nerdy dengan celana kedodoran. Sejak saat itu kami pun berpisah tanpa pernah bertemu lagi.

10 Tahun kemudian kami pun kembali dipertemukan lewat seorang teman yang sama. Saat itu si pria sedang sibuk mengejar gadis-gadis galau nan bohemian yang pintar melukis, mencipta lagu dan menulis puisi, sedangkan si wanita sibuk mencari mas-mas nan mapan yang bersepatu kotak dan berpakaian rapih yang dibeli di Factory Outlet terdekat. Ya, kembali sebuah pertemuan singkat. Beberapa jam kemudian si pria menelepon si wanita dengan obrolan alakadarnya. Si wanita sibuk bercerita tentang baik-buruknya hari sementara si pria sibuk mendengarkan.

Setelah melakukan beberapa minggu pendekatan, maka pada tanggal 9 Januari 2008 di sebuah kafe yang memiliki pemandangan city view kota Bandung yang indah namun makanan yang amit-amit tidak enaknya, si pria memberanikan diri melakukan “penembakan”, tanpa perduli resiko dimaki-maki karena si wanita sedang mengalami menstruasi. Beruntunglah si pria karena saat itu si wanita mengatakan “Iya” dengan mantapnya dan beruntunglah si wanita karena si pria saat itu mampu membayar makanan mahal namun tidak enak di kafe tersebut.

Beberapa bulan berpacaran akhirnya membuat si pria semakin mantap untuk melamar si wanita tepat pada tanggal 14 Juni 2008. Proses Lamaran yang lancar namun menegangkan karena si wanita sempat mengalami bengek akut akibat stres menunggu keluarga pria yang telat datang. Sempat terpikir oleh si wanita bahwa jangan-jangan si pria kabur karena tidak siap menerima kenyataan, namun dugaannya tidak terbukti karena setengah jam kemudian si pria datang berbodong-bondong bersama keluarganya. Proses lamaran sedikit disertai intimidasi dari keluarga pria yang mengancam tidak akan pulang hingga lamarannya diterima. Untungnya keluarga wanita mau menerima lamaran tersebut sehingga lamaran bisa diakhiri dengan makan enak dan silaturahmi. Maka sejak saat resmilah mereka bertunangan. [foto proses lamaran]

Lewat negosiasi alot dan konsultasi ke beberapa ahli, maka kedua keluarga sepakat untuk melaksanakan akad nikah dan resepsi perkawinan pada:

Tanggal : 20 Desember 2008

Tempat : Gedung Dapenpos (Posters Hotel), Jl. PHH Mustapha, Bandung

Pukul : Akad nikah pukul 8.00 WIB dan Resepsi pukul 12.00 WIB

Jadi anggaplah ini sebagai pemberitahuan sekaligus undangan. Kami tidak mengharapkan apa pun selain doa yang tulus dari kalian semua agar segalanya berjalan lancar. Yah, syukur-syukur jika kalian mau memberikan kado atau apalahh. Kami tentunya akan tulus menerimanya, hehe…

Salam,

Allan + Wulan

Banyak sekali perbedaan yang kami miliki, tidak terkecuali dengan masalah perbedaan selera musik. Di saat Allan tengah menikmati Langgam Djoewita Malam Sam Saimun atau Genjer-genjer versi Lilis Suryani, Wulan akan dengan segera menggantinya dengan lagu-lagu Yovie Widianto. Ketika Wulan dengan khidmat mendengarkan Munajat Cinta dari The Rock, yang bisa Allan lakukan hanyalah ngedumel dalam hati berharap Wulan mau menggantinya dengan lagu Can I Play with Madness dari Iron Maiden. Namun ada satu lagu yang kami berdua sepakat untuk didengarkan: Time After Time versi Tuck and Patti. Lagu ini awalnya dibawakan oleh Cindy Lauper dan telah dibawakan dalam berbagai versi, seperti dibawakan secara balada oleh Eva Cassidy, atau dengan irama bossanova oleh Clementine. Namun bagi kami petikan gitar Tuck Andress dan desauan Patti Cathcart selalu mampu membuat endorfin kami membuncah hingga aroma cinta senantiasa berkelindan di udara, sssssah!. Sepertinya jika salah satu kami berbuat kesalahan maka akan disetrap berdiri menghadap tembok sambil memikirkan esensi dari syair lagu ini.

——————————–

Time After Time

Lying in my bed I hear the clock tick, and think of you
Caught up in circles confusion is nothing new
Flashback warm nights
Almost left behind
Suitcases of memories,
Time after

Sometimes you picture me, I’m walking too far ahead
Youre calling to me, I can’t hear what you’ve said
Then you say go slow
I fall behind
The second hand unwinds

If you’re lost you can look and you will find me
Time after time
If you fall I will catch you I’ll be waiting
Time after time

After my picture fades and darkness has turned to gray
Watching through windows you’re wondering if I’m ok
Secrets stolen from deep inside
The drum beats out of time

If you’re lost you can look and you will find me
Time after time
If you fall I will catch you I’ll be waiting
Time after time

Allan: “Neng, aku mau numbuhin kumis, ah….”

Wulan: “Nggak!”

Allan: “Neng, aku mau touring naek motor ke Jakarta…”

Wulan: “Nggak!”

Allan: “Aku males ke undangan rapih… Pake jins aja ya?”

Wulan: “Nggak!”

Allan: “Tapi kan atasnya pake batik….”

Wulan: “Nggak!”

Kata Nggak!” sering terdengar dari Wulan ketika saya mencoba untuk menjalankan kebiasaan yang sering saya lakukan semasa melajang. Terkadang saya terus mencecar dan meminta penjelasan mengapa ia sering melarang saya untuk melakukan ini-itu dengan mengatakan “Nggak!”. Berkat ke-ngeyelan dan kegigihan saya, lambat laun kata Nggak!” berubah menjadi “Terserah…”. Terkadang saya mencoba menggoda Wulan dengan berbagai permintaan dan pertanyaan yang amat sangat tidak penting, seperti:

Allan: “Neng, aku boleh gak jadi penari latar TVRI?”

Wulan: “Terserah….”

Allan: “Kalo ngejarah Istana Negara?”

Wulan: “Terserah….”

Allan: “Aku mau operasi kelamin di Bangkok terus ikutan Miss Waria se-Jawa Barat, boleh gak?”

Wulan: “Terserah….”

Hihihi… Pesan moral apa yang bisa saya ambil dari kata Nggak!” yang sering diucapkan Wulan? Terkadang kita sulit untuk bisa melihat dan menilai diri sendiri. Kita butuh penilaian dan sudut pandang yang berbeda dari orang lain. Dalam hal ini kata Nggak!” dari Wulan bukan sekedar kata imperatif dari sifat posesif, namun juga berfungsi sebagai “mata kedua” ketika saya ingin melihat melihat diri saya sendiri dari perspektif yang berbeda. Tidak terbayang jika saya pergi ke undangan resmi dengan jins kedodoran, mungkin saya akan akan mendapat komentar pedas dan sinis dari para ‘polisi fesyen’ dan calon mertua atau jika saya ngotot untuk memelihara kumis, mungkin sekarang saya akan terlihat tak jauh beda dengan abang-abang calo bis terminal Leuwipanjang, hehe….

Wulan: “Hunnee, aku ikutan diet ke Dokter Rosaline, yaaaa….”

Allan: “Nggak!”

Wulan: “Biar kamu gak malu punya calon istri nduuut…”

Allan: “Nggak!”

Wulan: “Hun, aku pindah kerja di Jakarta aja yaaa”

Allan: “Nggaaaaaaak!” [al]

Ini adalah catatan awal “Kami”. Terserah jika Anda menganggap Kami adalah pasangan narsis atau apalah. Kami hanya ingin mencatat hal-hal kecil dan tak berguna tentang banyak hal. Tentang tawa, marah, sedih, senang, lalu dijadikan kisah yang kelak dapat kami lihat kembali untuk ditertawai dan ditangisi. Yup, siapa tahu kisah-kisah kecil ini ada artinya di kemudian hari…..

Salam,

Allan + Wulan

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.